To Kill a Mocking Bird

Resensi – Buku karya Harper Lee memuat kisah tentang keadaan Amerika di tahun 1935 terdapat rasial diskriminasi antara kulit hitam dan kulit putih begitu pun sebaliknya dengan rasisme antara kulit putih terhadap kulit hitam. Penyebabnya mulai dari pelayanan sosial, fasilitas umum, bahkan di posisi-posisi strategis pemerintahan kulit putih menepatinya. Kulit hitam? Oh tak pantas menepati posisi tinggi itu, dalam aspek pendidikan, perkonomian, jenis pekerjaan dan segala aspek kehidupan sangat terlihat sekali perbedaannya, rata-rata orang kulit hitam menepati posisi paling bawah dalam strata sosial. Apabila kulit hitam dinyatakan bersalah maka hukuman yang pantas untuk mereka adalah hukum gantung meski tanpa proses pengadilan yang jelas.
Yang menarik dari novel ini mengambil sudut pandang seorang anak kecil yang masih berumur 6 tahun, dia mempunyai pikiran terlalu dewasa dan kritis bila dibandingkan dengan teman-temannya seusianya. Bahkan kakaknya yang bernama Jem tidak memiliki sudut pandang yang se-kritis itu. Walaupun begitu, melalui sudut pandang anak kecil ini kita dapat merasakan kemurnian sudut pandang seorang anak kecil ini yang masih belum terkontaminasi pemikiran manusia dewasa yang komplek tanpa adanya prasangka.
Prasangka yang dibangun manusia tentang hasrat untuk mengetahui dan memuaskan jiwa dengan dicarinya otoritas pemahaman terhadap kehidupan pribadi sesama dengan segala cara seperti : sosialisasi, investigasi, gosip, hingga bergunjing termasuk merobos fakta-fakta yang rapuh yang kemudian dianggap kebenaran tentang seseorang, atau kita sebut prasangka (prejudice).
Kehidupan Scout dan Jem berubah ketika ayahnya “Atticus” golongan terhormat berkulit putih yang berprofesi sebagai pengacara “cari penyakit” dengan menjadi pembela seorang kulit hitam keturunan (Afro-Amerika). Sebenarnya Atticus sudah tidak percaya hukum pidana yang ada di negerinya karena pernah ada suatu kejadian ketika Atticus membela kulit putih yang memang bersalah, dia meminta kliennya mengakui kesalahannya agar republik mengurangi hukuman. Kesalahan kulit putih ini membunuh orang kulit hitam dengan sembarangan tetapi pemerintah malah mendukung orang kulit putih ini dan dibebaskan dari hukuman.
Tom Robinson adalah seorang kulit hitam yang dituduh menyetubuhi seorang kulit putih Mrs. Mayella Ewel dan Atticus di tunjuk menjadi pengacaranya. Kecamanan pun datang dari berbagai penjuru tetangganya mencibir Atticus Finch melalui anak-anaknya yang sering membully dengan sebutan “pencinta Nigger” sampai kecaman itu datang kepada keluarganya sendiri dengan mengatakan telah mempermalukan nama besar keluarga. Finch, adiknya Alexander Finch berkali-kali mengatakan bahwa tidak ada gunanya membela seorang yang dianggap sampah masyarakat sebab sudah ketauan hasilnya, menurut bibi alexander dia tidak akan memenangkan kasus ini. Tapi tak sedikit pun mengerutkan Atticus untuk membela kulit hitam. Bahkan Atticus mengatakan bahwa dia tak pernah tau di dalam hukum kedudukan seorang kulit putih lebih tinggi daripada kulit hitam, bagaimana pun kedudukan seseorang di mata hukum adalah setara, mungkin di dunia ini ada derajat yang berbeda seperti orang yang berpenghasilan lebih tinggi dengan yang berpenghasilan lebih rendah, ada yang dilahirkan dengan bakat yang jauh di luar cakupan normal sebagian besar manusia.
Tetapi ada satu lembaga kemanusiaan yang membuat pengemis sederajat dengan pengusaha paling kaya di negeri ini, seorang bodoh sederajat dengan seorang Enstein, dan seorang tak berpendidikan sederajat dengan rektor universitas manapun, lembaga itu adalah pengadilan. Scout terkaget-kaget melihat kenyataan bahwa ternyata kehidupan orang dewasa tidak melulu hitam ataupun putih, Scout banyak belajar dari luar dunianya, untuk kali pertamanya scout menyadari ternyata ada kenyataan lain yang bernama kompromi. Ada kenyataan yang berada di wilayah kelabu, grey area.
Jem tak peduli cibiran orang-orang karena didikan Atticus, Atticus tak menginginkan amarah menguasai diri anaknya, dalam cuplikan novel ini Jem marah kepada salah satu tetangganya yang mencibir Atticus dengan sebutan “pencinta nigger” dan Atticus menyuruh agar jem segera meminta maaf dan menyelesaikan masalahnya sendiri untuk mendidiknya menjadi seorang laki-laki terhormat ketika Scout Finch di bully oleh teman-temannya tentang Atticus yang akan membela kulit hitam ini, Scout tak segan-segan melakukan kekerasan (berkelahi) jika ia tersudut. Jem selalu mendukung keputusan Atticus dan adiknya yang tomboy ini “Scout” selalu mengekor.
Sedikit membosankan untuk buku pertama, ternyata Harper Lee menggunakan buku pertama untuk membongkar karakter-karakter dan memunculkan tokoh-tokoh dalam novel ini. Terlebih tetangganya ‘boo’ radlye pemuda misterius yang jarang sekali bersosilalisasi ini sebenernya sedang “bermain-main” dengan mereka.
To Kill A Mocking Bird, merupakan tonggak sastra dunia yang tak lekang oleh zaman. Buku ini telah memenangi Pulitzer Prize, terjual lebih dari 40 juta kopi di seluruh dunia, di terjemahkan dari berbagai bahasa, dan diadaptasi ke dalam film pemenang Academy Award. To Kill A Mocking Bird dianggap sebagai buku yang paling berpengaruh di abad ke-20.
Novel ini menujukkan betapa prasangka sering kali membutakan manusia, prasangka tidak selalu benar jikalau ada kebenaran dalam prasangka sangatlah rapuh, prasangka tidak hanya merugikan tetapi juga berbahaya.
Seperti qoute atau hikmah yang dapat kita ambil dari buku ini : “Kau tidak pernah bisa memahami seseorang hingga kau melihat dari sudut pandang nya……… hingga kau menyusup kebalik kulitnya dan mejalani hidup dengan caranya.” (rf/sus)

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*