MEMAHAMI KEMBALI CARA NEGARA IMPERIALIS MENGOBRAK-ABRIK TATANAN EKONOMI NEGARA BERKEMBANG YANG SUMBER DAYA ALAMNYA MELIMPAH

 

Opini – saya menulis ini karena terinspirasi dari buku karya T. W. UTOMO yang berjudul “Sisi Lain Kehidupan Ernasto Guevara * CHE VIVE”, saya tertarik mengenai pembahasan Ide-ide pembebasan yang dicanangkan oleh Amerika Latin karena adanya permasalahan ketergantungan ekonomi terhadap negara Asing yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi di negara tersebut pada titik Nol persen. Boleh kiranya dikata saya hanya tinggal comot dari buku tersebut kemudian saya tuliskan ulang. Tulisan ini dimaksudkan untuk membuka fikiran dan wawasan pembaca mengenai situasi yang ada pada Amerika Latin di tahun 1960 -an dengan situasi Indonesia pada era sekarang ini. Dimana ketimpangan antara si miskin dan si kaya tinggi, investasi dan pajak, diagung-agungkan bagi Tuhan. Atau tentang tata cara negara Imperialis menjadikan negara berkembang memiliki ketergantungan terhadap negara Imperialis tersebut.

Kisah cerita Indonesia sekarang ini kiranya tidak jauh berbeda dengan tragisnya kisah Amerika latin sekitar tahun 1960 –an lalu. Seperti halnya Indonesia, jumlah keseluruhan penduduk Amerika Latin kala itu hampir mencapai 200 juta jiwa, dengan diserta pelbagai permasalahan ketimpanga pendapatan yang sangat tinggi. Kala itu banyak penduduk Amerika Latin yang hidup dan tinggal di tempat-tempat pembuangan sampah, di tengah-tengah sedikitnya penduduk Amerika Latin yang punya kekayaan lumayan besar dan memungkinkan masih akan terus bertambah serta kondisi dimana kekuasaan kala itu sangat menentukan.

Antara tahun 1935 sampai 1950 -an, perekonomian di Amerika Latin tumbuh sekitar 4,5 persen setip tahunnya jika diukur melalui tingkat Gross Domestic Product. Jika di hitung menggunakan perbandingan peningkatan populasi, maka pertumbuhan ekonominya hanya mencapai sekitar 2,5 persen saja. Kala itu pemerintah Amerika Latin menginginkan pertimbuhan ekonomi yang lebih besar, sehingga pada akhir 1940 –an, mereka akhirnya tertarik bantuan Amerika Serikat melalui program seperti Marshal Plan.

Sekitar tahun 1950 –an, upaya Amerika Latin meminta bantuan terhadap Amerika Serikat berlanjut sehingga mengakibatkan terjadinya peningkatan investasi orang-orang kaya ke kawasan tersebut. kala itu Amerika Serikat menjadi sumber utama investasi asing, beberapa perusahaan besar Amerika Serikat mengembangkan beberapa operasinya ke Amerika Latin. Kala itu pemerintah Amerika Latin memanfaatkan penerimaan pajak dalam negeri sebagai salah satu pendapatan terbesar negara. Namun pada sekitar tahun 1962 -an, hal tersebut mengakibatkan pertumbuhan ekonomi per kapital mengalami kemunduran hingga nol persen, banyak orang yang mempertanyakan fenomena tersebut, mengapa kawasan Amerika Latin yang Sumber Daya Alamnya (SDA) begitu kaya malah lebih miskin dari pada negara-negara industri maju yang SDAnya terbatas.

Di tengah permaslahan ekonomi tersebut muncul dan berkembang pesatlah ide-ide teologi pembebasan yang mana kemudian dilanjutkan dengan adanya teori-teori ketergantungan. Pada intinya, terdapat situasi tertentu dalam sistem perekonomian internasional yang membuat Amerika Latin begitu memiliki ketergantingan dengan negara-negara maju. Semakin besarnya ketergantungan tersebut, maka semakin besar pula sumber-sumber daya mereka yang akan terserap, dan semakin miskinlah negara itu. Situasi kala itu kiranya sama dengan situasi di Indonesia sekarang, dimana para pemimpin, pengusaha, ataupun pedagang hanya memperbesar ketergantungan terhadap negara maju. Hal ini dikarenakan mereka hanya dijadikan alat untuk mempermudah negara maju menyedot habis sebesar-besarnya kekayaan di dalam negari.

Pada kala untuk mengatasai ketergantunga pelbagai cara ditempuh oleh Amerika Latin untuk mengurangi ketergantungan terhadap negara-negara imperialis, antara lain: melakukan Revoluasi dan menggulingkan penguasa yang dianggap menjadi antek-antek kekuatan luar negeri, memotong ketergantungan dengan cara meningkatkan perdagangan antar orang amerika latin sendiri, pada tahun 1960 -an melakukan pembangunan transportasi untuk menunjang perlaksananya proses produksi sehingga berakibat terhadap peningkatan output produksi dalam negeri, meningkatkan perdagangan antar negara (bukan lagi menjadi konsumers, melainkan sudah menjadi produsen), selanjutnya pada tahun 1966 –an langkah besar yang diambil adalah menurunkan tarif perdagangan yang sempat menjadi ganjalan antar negara.

Seperti halnya yang pernah dikatakan oleh Ernasto ‘Che’ Guevara dalam konferensi perdagangan PBB 25 Maret 1961: “penetrasi ini terjadi dalam pelbagai bentuk, seperti: pemberian bantuan-bantuan dengan ketentuan-ketentuan mengikat; investasi yang membuat negara jatuh ke tangan investor; subordinasi total dibidang tehnologi agar negara berkembang tertentu tetap bergantung pada negara maju; mengintrol perdagangan luar negeri suatu negara lewat monopoli internasional besar, dan dalam kasus paling exstrim adalah penggunaan kekuatan paksaan (militer) sebagai kekuatan ekonomi untuk memberlakukan kembali bentuk lain dari eksploitasi”. Selanjutnya di PBB 11 Desember 1964, ia mengatakan, “peradaban barat menyamarkan diri dari gambaran asli seperti hyena dan srigala”. #Mr.M

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*