Mahasiswa Tidak Se-Bodoh Itu

“Para Mahasiswa Sebenarnya Punya Hati. Bukan Mesin, Yang Bisa Terus Menahan Tekanan Difikirannya” petikan dari film 3 idiot ini seakan menyadarkan kita pada sistem pendidikan saat ini.

Dengan iming-iming mendapat pekerjaan layak, mahasiswa dituntut untuk tunduk dan patuh dengan sang maha pemberi nilai, bahkan lebih parah, lupa akan kata “Merdeka”. Menganggap sang pemberi nilai tanpa memiliki cacat sedikitpun. Tunduk dan patuh akan untaian kata-nya, “Ucapannya”, Seolah apa yang diucapkan adalah kebenaran hakiki yang memang dan harus dilaksanakan tanpa berfikir panjang dan tanpa filter.

Tidak patut kiranya saya menuliskan mengenai hal ini, mengenai ketergantungan akan kata dan ucapan. Sistem mengajar bukan lagi pengembangan pola pikir. Hampir semua kiranya hanya sebagai tuntutan kewajiban, dan itu yang mungkin mengakibatkan prosesnya bukan lagi dari hati, sehingga seolah mengalami kemunduran. Sistem dan proses yang dilaksanakan pun kiranya tetap sama dari waktu ke waktu, tentu disini bukan berbicara mengenai fasilitas. Dimana sistem yang ada kurang untuk mencoba keluar dari kebiasaan yang lama, dan terkesan stagnan. Sehingga kebosanan seakan menghantui mereka yang memikirkan mengenai sistem belajar mengajar yang ada sekarang ini.

Seolah kita hanya terpaku pada pertanyaan tentang apa ini dan itu, bukan lagi tentang kenapa, mengapa, bagaimana mengenai ini dan itu. Yang mana saat ini seolah kita hanya terpaku mengenai wawasan yang disuguhkan, bukan lagi mencari pembenaran akan wawasan tersebut, hanya sekedar tahu kulit kacang tanpa mengupasnya dan merasakan nikmatnya isi yang ada didalam kulit tersebut.

Tak hanya dalam bidang keilmuan, mengenai kedisiplinan pun kiranya perlu dipertanyakan, terpampang jelas dalam Kontrak Kuliah pada poin Tata Tertib Perkuliahan tentang beberapa poin yang sedikit akan saya kritisi, jikalau kritikan saya salah, dan terdapat pihak yang merasa dirugikan akan kritikan yang saya tulis, dikesempatan lain kiranya saya akan meralat mengenai kritikan yang saya buat ini.

Wajib hadir tepat waktu. Keterlambatan mahasiswa maksimum 15 menit. Jika dosen terlambat selama 20 menit tanpa pemberitahuan, kelas dinyatakan kosong
Mahasiswa berhak mengikuti Ujian jikalau mengikuti kuliah minimal 80%.
Pada poin a sudah terpampang jelas ketidak adilan dari aturan tersebut, 15 menit untuk mahasiswa dan 20 menit untuk dosen. Selanjutnya ada hak istimewa untuk dosen mengenai “pemberitahuan keterlambatan”, sedangkan untuk mahasiswa tidak ada, kiranya jika pemberitahuan keterlambatan itu untuk kepentingan kemajuan kampus tidaklah masalah, tapi jika keterlambatan itu dikarenakan kelalaian misal karena kemacetan dijalan, berangkat dari rumah kesiangan, dan tugas proyek dan sebagainya apakah hal tersebut masih dapat dikatakan adil pada hak istimewa tersebut. Selain itu dalam poin a tidak tertara mengenai konfirmasi waktu pemberitahuan keterlambatan dosen dalam mengajar, kiranya konfirmasi tersebut harusnya minimal 6 jam sebelum waktu pembelajaran. Sehingga tak didapati raut kekecewaan dimuka mahasiswa yang terburu-buru datang ke kampus untuk belajar, namun sesampainya kampus harus menunggu kedatangan dosen selama berjam-jam.

Sedangkan pada poin b adalah sanksi bagi mahasiswa yang kehadirannya kurang dari 80%, namun tidak ada sanksi tertulis untuk dosen. Selanjutnya untuk absensi perkuliahan pengganti atau pergantian jam secara dadakan keterangan bebas absensi tidak tertulis didalamnya, padahal hal tersebut murni bukan kesalahan dari mahasiswa.

Sebenarnya banyak mahasiswa yang kritis akan segala hal disekitarnya, namun terbelenggu oleh tekanan sang maha nilai. Kekhawatiran akan bayang-bayang kesalahan dan dalih nilai rendah, terpaksa membuat mereka mengubur kemerdekaannya. Jiwa berontaknya menjadi lunak dan lemah, terkalahkan oleh iming-iming masa depan cerah dan bahagia yang masih abu-abu.

Ibu/bapak senakal apapun mahasiswa, mereka tetap anakmu, generasi penerusmu, pemimpin bangsamu kelak, dan penerus perjuangan akan cita-cita luhurmu. Sehingga ajarkan mereka tentang moral dan etika, benar dan salah, serta ilmu yang bermanfaat. Didik mereka tanpa intervensi, ajarkan ilmumu dengan penuh keikhlasan. Ibu/bapak kami mahasiswa adalah anakmu. #y1/May

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*