Anak Semua Bangsa – Roman Kedua Tetralogi Pulau Buru Pramoedya Ananta Toer

Judul Roman   : Anak Semua Bangsa

Penulis             : Pramoedya Ananta Toer

Penerbit           : Lentera Dipantara

Tebal buku      : 539 halaman

Buku Anak Semua Bangsa karangan Pramoedya Ananta Toer merupakan roman kedua dari tertralogi buru. Roman Anak semua bangsa ini merupakan periode observasi atau turun ke bawah mencari serangkaian spirit lapangan dan kehidupan arus bawah Pribumi yang tak berdaya melawan kekuasaan raksasa Eropa.

Buku ini menceritakan tentang kehidupan Minke, seorang penulis bahasa Belanda yang begitu mencintai dan mengagung-agungkan peradaban Eropa. Kenyataan pahit tentang Eropa sedikit demi sedikit mulai terkuak dimata Minke saat kematian istrinya Annelies yang merupakan putri dari Tuan Mellema yang berkebangsaan Belanda dan Nyai Ontosoroh yang seorang Pribumi.

Kepergian Annelies merupakan pukulan keras bagi Minke dan Nyai Ontosoroh. Hari-hari Minke dipenuhi dengan kemurungan hingga ia tak lagi bersemangat untuk membaca dan menulis. Namun seiring dengan berjalannya waktu, dan dengan nasehat-nasehat dari Nyai Ontosoroh, Minke akhirnya bangkit dari keterpurukannya. Ia mulai aktif menulis kembali di S.N v/d D. Sebuah surat kabar milik Belanda.

Melihat kecintaannya terhadap Eropa, sahabat Minke yang seorang seniman berkebangsaan Perancis, Jean Marais meminta Minke agar menulis dalam bahasa Melayu, agar pribumi dapat memahami apa yang ditulisnya. Namun Minke menganggap bahwa bahasa Melayu adalah bahasa yang rendah. Persahabatan merekapun mulai renggang akibat masalah ini yang kemudian ditengahi oleh putri semata wayang Jean Marais, Maysaroh Marais.

Masalah tak sampai disini, Kommer dan Nyai Ontosoroh juga mendesak Minke agar mau menulis dalam bahasa melayu, bahkan Kommer menyebut bahwa Minke sama sekali tidak mengenal bangsanya sendiri. Hingga akhirnya ia bertemu dengan Khouw Ah Soe, seorang aktivis dari negeri Tionghoa yang dijebak oleh Nijman dengan mengganti hasil wawancara yang dilakukan Minke sehingga ia menjadi buronan. Dari situ Minke mulai sadar akan kelicikan Eropa.

Perjalanannya ke Tulangan bersama Nyai Ontosoroh telah berhasil mengubah pandangannya tentang Eropa, disana ia bertemu dengan berbagai permasalah pribumi yang diakibatkan oleh Eropa. Ia melihat bangsanya yang kerdil diantara peradaban Eropa. Pertemuannya dengan petani bernama Trunodongso hingga cerita dari Surati yang dijadikan Gundik oleh Plikemboh dengan cara menjebak keluarga Surati.

Dari semua pengalaman yang didapatkannya serta petuah dari Nyai Ontosoroh dan dukungan dari sahabatnya, akhirnya Minke sadar bahwa ia adalah bayi semua bangsa dari segala zaman yang harus menulis dalam bahasa bangsanya dan berbuat untuk manusia-manusia bangsanya.

Berlatarkan zaman penjajahan, penulis sangat baik dan detail dalam menggambarkan setiap peristiwa yang terjadi dengan tokoh. Pembaca diajak ke dunia imajinasi dan merasakan kejadian yang menimpa tokoh. Pembaca juga diajak sedikit belajar tentang bahasa Belanda dan Perancis. Pembaca seolah diajak melihat-lihat peristiwa pada masa lampau

Pembaca juga akan merasakan bahwa tokoh dalam cerita merupakan gambaran dari dirinya. Minke yang digambarkan sebagai pribumi yang lebih mencintai negara lain dibanding negara sendiri dan sama sekali tidak mengerti dengan keadaan bangsanya. #h1

“ Jangan Agungkan Eropa sebagai keseluruhan, Dimanapun ada yang mulia dan jahat…

Kau sudah lupa kiranya, Nak, yang koloni selalu iblis,

Tak ada yang kolonial pernah mengindahkan kepentingan bangsamu. “

-Pramoedya Ananta Toer -

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

*